24 Januari 2010

4 KEBIASAAN MENYENANGKAN TAPI BERBAHAYA

PERNAHKAH Anda membunyikan leher untuk menghilangkan ketegangan? Atau mengucek mata dengan harapan bisa melihat lebih jelas dan membunyikan ruas-ruas jari tangan untuk mengusir kebosanan saat Anda sama sekali tidak punya pekerjaan? Jika pernah, Anda tidak sendiri, banyak orang yang melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini tapi tahukah Anda, bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil ini berdampak buruk bagi kesehatan?
Berikut kebiasaan-kebiasaan itu:

1. Mengucek mata
Mulailah menghindari kebiasaan yang satu ini. Menurut para dokter, gosokan yang lembut sekalipun pada mata bisa meningkatkan tekanan yang memicu terjadinya glaucoma atau penyakit kebutaan. Sebuah studi juga menemukan kalau memakai kaca mata renang, tidur telungkup atau melakukan olahraga di gym bisa memicu glaucoma dan penyakit mata yang berkaitan dengan tekanan mata lainnya.

Setiap sentuhan yang mengenai kelopak mata, menurut profesor Charles McMonnies dariUniversity of New South Wales Shool of Optometry and Vision Science, bisa meningkatkan tekanan mata. Sentuhan ringan akan menambah sedikit tekanan tapi sentuhan yang kuat bisa memicu peningkatan tekanan 3-5 kali dari tekanan normal.

Karena itu, ada baiknya lebih berhati-hati dalam menyeka mata berair atau make-up di sekitar mata. Proses ini melibatkan kontak dengan kelopak mata. Dalam kasus mengucek mata, yang meilibatkan kelopak dan juga bola mata, tekanan mata bisa meningkat 10 kali lipat dari normal. Masih ingin mengucek mata? Anda baiknya mulai dihentikan.

2. Membunyikan leher
Dengan membunyikan leher, berarti Anda turut meregangkan jaringan ikat persendian yang berfungsi mendukung dan menstabilkan persendian leher. Meregangkan persendian akan menyebabkan hipermobilitas di mana persendian telah kehilangan kelenturan alaminya.

Karena jaringan ikat persendian menjadi kendur, otot-otot kecil yang menghubungkan ruas-ruas tulang punggung menjadi kencang. Otot-otot ini harus bekerja lebih keras untuk menetralkan hilangnya keseimbangan akibat kendurnya jaringan pengikat sendi. Hal ini akan membuat leher terasa kaku dan tegang. Saat ketegangan semakin menumpuk dan leher semakin tidak nyaman, Anda kembali ingin memanipulasi leher dengan cara membunyikan. Akibatnya, proses buruk yang sama akan kembali terulang.

3. Membunyikan ruas-ruas jari
Hal ini mungkin seringkali Anda lakukan tanpa sadar. Burukkah bagi kesehatan? Menurut sebuah studi dengan 300 partisipan yang dipublikasikan di Journal of Manipulative and Physiological Therapeutics, hal ini bisa memicu kerusakan persendian. Studi ini memang tidak menemukan hubungan antara membunyikan persendian dengan radang sendi, tetapi kebiasaan ini mengakibatkan kerusakan lain termasuk kerusakan jaringan lunak hingga kapsul persendian serta melemahnya daya cengkram.

4. Mengorek telinga
Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan Anda, ada baiknya mempertimbangkannya kembali. Jika telinga Anda gatal atau sakit, lebih baik berkonsultasi dengan dokter daripada menyelesaikan masalah Anda sendiri. Menurut dr Peter Roland dari University of Texas, menggunakan cotton bud berisiko melubangi gendang telinga, menyebabkan perdarahan dan hilangnya pendengaran yang bersifat sementara.

Upaya mengeluarkan tumpukan lilin telinga ada baiknya diserahkan kepada dokter. Sebab, lilin ini berfungsi untuk mencegah masuknya kotoran, sel-sel kulit mati dan rambut ke dalam telinga. Kelebihan lilin secara alami akan dikeluarkan melalui saluran telinga, dibantu oleh gerakan mengunyah dari rahang. Lilin ini juga berfungsi dalam mekanisme pembersihan serta mengandung antibakteri dan pelumas. Menyodokkan benda kecil ke dalam justru bisa merusak pembentukan alami lilin sehingga menyebabkan lilin menjadi padat, menjadi penghambat dan memicu infeksi.

sumber: media indonesia
(MOHON DISEBARKAN, SEMOGA BERMANFAAT)

Janganlah Hatimu Menciptakan Jarak!


Seorang murid bertanya pada Ustadz yang bijak "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, biasanya berbicara dengan suara keras bahkan berteriak? "

Ustadz itu tersenyum " Adakah yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian ini " Sang Guru menguji kebijakan murid-muridnya.

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;"Karena ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia berteriak."

" Hmm, Padahal lawan bicaranya justru berada dekat disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?" Pancing Sang Ustadz

Semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang Ustadz lalu berkata; "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas."

"Mengapa demikian?" Sang Ustadz bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka terdiam, tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang Ustadz menutup dengan sebuah nasehat :
"Ketika kalian sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Apalagi mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu.

Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Kalian."

***

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali ‘Imran:159]

Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” ( HR Buhkori )

Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad)

Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu balas mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui tentang dirinya.Karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

Katakan HIJRAH, hijrahkan KATA

Ternyata, kualitas/kondisi hati seseorang sangat terlihat dari kualitas kata-katanya, dan juga terlihat dari kualitas bagaimana vocal/infleksi/intonasi suara orang tersebut dalam mengatakan sesuatu.

Tentang kata-kata, setidaknya ada dua dimensi yang harus kita hijrahkan. Pertama dimensi VOCAL, kedua dimensi VERBAL. Tentu saja hijrah dari kata-kata yang mengandung ketidakbaikan menuju kata-kata yang lebih baik dan berdaya manfaat.

Pertama, dimensi VOCAL. Vocal seseorang dalam berbicara sangat terpengaruh dari kecepatan dan infleksi (tinggi rendah) suaranya. Atau saya sering mengistilahkan denga sebutani getaran suara. Rupanya, jika Anda ingin menyelaraskan hati Anda dengan hati orang yang Anda ajak bicara maka SELARASKANlah getaran suara Anda dengan getaran suara orang itu. Cobalah Anda lakukan hal itu, dan nikmatilah keajaiban yang terjadi...

Kedua, dimensi VERBAL. VERBAL adalah pilihan KATA kita dalam berbicara. Jika kita terbiasa berkata yang positif berarti isi hati kita insya Allah adalah hal-hal yang positif. Tetapi jika seseorang terbiasa berkata kotor, menghujat, dan mengkritik menjatuhkan, berarti kemungkinan isi hatinya seperti itu. Sebab, tidak mungkin Teko berisi air Teh bisa menumpahkan air Kopi. Apa yang kita tumpahkan dari kata-kata kita, maka itulah isi hati kita....

Dan, Tahukah Anda, mengapa kita harus berhati-hati dalam berkata-kata. Sebab rupanya, kata-kata itu menciptakan. Perhatikanlah, 20 tahun yang lalu di Indonesia tidak ada yang BETE, hal ini terjadi karena memang 20 tahun yll tidak ada kosa kata Bete. Dan, semakin tertebar kata "Bete" di alam semesta ini, maka memungkinkan semakin banyak menciptakan orang-orang yang Bete. Wow, Masya Allah...

Bayangkan jika si ibu memarahi anaknya dengan kata NAKAL. Maka tidak perlu heran anak tersebut jadi nakal betulan, karena begitu seringnya sang ibu mengatakan bahwa anaknya Nakal. So, seringkali bukan karena anak itu nakal lalu ia dikatai nakal, tapi karena anak itu sering dikatai nakal maka ia menjadi nakal betulan.

Ditambah lagi, Penelitian dari Prof Masaru Emoto bahwa ternyata ada Pengaruh KATA terhadap kualitas AIR. Kristal air menjadi indah jika diberikan kata-kata yang indah. Dan Bukankah 70% lebih tubuh kita terdiri dari Air?


Pengaruh KATA terhadap AIR. Kristal air menjadi indah jika diberikan kata-kata yang indah. Bukankah 70% lebih tubuh kita terdiri dari Air?



Sahabat, mari perbaiki VERBAL kita. Berikut beberapa tips memperbaiki kata/verbal.

1. Gunakan Kata yang berenergi POSiTIF
Kurangi kata yang bernuansa/berenergi negatif. Kalau Anda ingin mengatakan Bodoh, maka katakanlah kurang Pintar. Jika Anda ingin mengatakan Sulit, maka katakanlah Tidak Mudah.

2. Gunakan Kata/KALIMAT yang JELAS
Kurangi Kata-kata yang hanya bernuansa Gaul, tapi membuat bingung. Contoh kata-kata yang tidak jelas : Lebay, Bohay, Bokat, Spokat, Cupu dan sebagainya. Kata-kata yang tidak jelas akan memaksa kinerja alam semesta memperjelasnya dan mempopulerkannya, lalu menciptakan orang-orang sesuai kata-kata tersebut. Maka tak heran, semakin bertebaran kata yang tidak jelas di alam semesta ini, maka akan menciptakan banyak orang-orang yang tidak jelas. Wallahu alam.

3. Kalimat yang ujungnya POSITIF
Walaupun Anda ingin/terpaksa menggunakan kata yang berenergi negatif, maka Anda harus menutupnya dengan kata yang positif. Sebab, pada akhirnya, otak kita lebih menerima kata-kata yang berada di akhir kalimat. Contoh, jika Anda mengatakan : Pelajaran matematika, aku bisa tapi sulit. Anda ganti saja dengan pelajaran matematika memang sulit, tapi aku bisa. Kalau Anda mengatakan : Bu Ani orangnya gemuk, tapi cantik. Hal itu lebih indah dibandingkan jika Anda mengatakan Bu Ani memang cantik, tapi gemuk.

4. Kurangi awalan kata JANGAN atau TIDAK
Agar ujungnya Positif, maka kurangi awalan kalimat berkata "Jangan". Kalau Anda mengatakan “Jangan Ribut”, maka kata ribut membayang di otak orang yang Anda beri intruksi jangan ribut tersebut. Tapi katakanlah, “Tolong Diam... Terimakasih”.

Seorang ibu yang mengatakan kepada anaknya “Jangan Lari, ntar jatuh”, biasanya setelah itu anaknya semakin kencang larinya dan akhirnya terjatuh. Maka katakanlah, “Stop, berhentiiiiii...gerak....”... Intinya mari belajar berkata FOKUS kepada apa yang kita inginkan, bukan malah fokus kepada apa yang tidak kita inginkan.

5. Selaraskan Perkataan dengan Pikiran, Perasaan, Perbuatan, & Peraturan.
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. 61:2-3).

Wallahu alam
KZ
http://cahaya-semesta.com

WAKTU DAN PROYEK

Aku kadang heran melihat orang yang sibuk, tapi selalu dapat menyelesaikan pekerjaannya. Dan aku pun heran melihat orang yang santai dan luang tapi tak pandai menyelesaikan pekerjaannya. Lalu aku lihat diriku, yang mana aku saat ini?

Rupanya aku pelajari sesuatu....
Hargailah waktu, maka waktu akan menghargaimu...

Jika engkau ditaqdirkanNya mendapatkan SEPULUH proyek bulan ini, maka :

- Jika engkau terbiasa menghargai waktu, maka proyek itu akan diatur oleh Allah sedemikian rupa sehingga tidak bentrok waktunya dan tidak pula terlalu berdekatan..

- Jika engkau hanya kadang-kadang saja menghargai waktu, maka proyek itu akan diberikan-Nya dalam waktu yang berdekatan, sehingga engkau akan kelehan, atau bahkan sakit setelah itu...

- dan, jika engkau sedikit sekali menghargai waktu, maka bisa saja KESEPULUH proyek itu dihadirkanNya dalam waktu yang sama, yakni hari yang sama ... sehingga engkau mau tidak mau hanya bisa memilih dan menyelesaikan satu proyek saja, dan menyesali Sembilan proyek lainnya...

Wallahu alam, hal ini hanya pendapatku saja....

"Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran (Q.S. Al-'Ashr)"

Hargailah waktu, maka waktu akan menghargaimu...

Wallahu alam
Kang Zen
http://cahaya-semesta.com
http://sugestipower.com

02 Desember 2009

GEMPA DI MATA ROSULULLOH DAN GENERASI TERBAIK

Sebelumnya pada bulan Ramadhan gempa 7,3 skala richter mengguncang Pulau Jawa. Pusatnya ada di Jawa Barat, tepatnya di Tasikmalaya. Kembali guncangan gempa itu datang ba'da Ramadhan di Padang Pariaman gempa dengan kekuatan 7,6 skala richter,.. Guncangan yang kembali menambah daftar kesedihan, korban harta bahkan korban jiwa.
Ba'da Ramadhan 1430 H ini sedang mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Ada yang harus ditadabburi. Langkah ini harus dihentikan sejenak untuk mentadaburi ada apa dengan perjalanan kita dan bangsa ini.
Jika Badan Metereologi dan Geofisika telah membahas gempa dari sudut ilmiah. Pusat gempa, kekuatannya, penyebabnya, radius kerusakannya dan sebagainya.
Kini, mari kita belajar tentang gempa dari manusia terbaik sepanjang sejarah bumi yang mendapat bimbingan langit, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Juga dari generasi terbaik yang pernah Allah munculkan demi memakmurkan bumi ini, para shahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

GEMPA DIMATA ROSULULLOH

Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi. Yang pertama di Mekah. Dan kedua di Madinah.
Pertama, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata,

“Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata:

“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”

Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahwa ternyata gunung tidak layak berguncang saat ada 4 manusia terbaik ada di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut.

Di sinilah pelajaran besarnya bagi kita sebagai analisa pertama tentang gempa. Bahwa keberadaan orang-orang shaleh di sebuah masyarakat membuat bumi tidak layak berguncang. Kriteria keshalehan sangat spesifik disebutkan dalam riwayat tersebut. Untuk kita, hanya tinggal dua pilihan mengingat sudah tidak ada lagi nabi. Yaitu: Shiddiq. Kriteria utama Abu Bakar adalah beriman tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. Dan Syahid. Mereka yang meninggal fi sabilillah.

Jika manusia dengan dua kriteria itu masih banyak yang hidup di atas bumi, maka bumi tidak layak gempa. Sebaliknya, gempa terjadi manakala bumi telah sepi dari keberadaan orang-orang dengan keimanan tanpa ada kabut keraguan dan orang-orang yang meninggal fi sabilillah.

Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dun-ya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat,

“Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!”

GEMPA DI MATA UMAR BIN KHATAB radhiallahu anhu

Gempa juga tercatat pernah terjadi di Masa kekhilafahan Umar, sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,

“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Kembali, generasi terbaik itu mengajarkan ilmu mulia bahwa gempa terjadi karena dosa yang dilakukan oleh masyarakat. Umar dengan tegas menyatakan itu. Lebih tegas lagi saat dia bersumpah bahwa jika terjadi gempa susulan, Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu artinya dosa kembali dikerjakan dan tidak kunjung ditaubati.

GEMPA DI MATA KA'AB BIN MALIK radhiallahu anhu

Shahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattabh. Inilah pernyataan lengkapnya tentang gempa,

“Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab nya azza wajalla melihatnya.”

Ka’ab menyebut bahwa guncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.

GEMPA DI MATA UMMUL MUKMININ 'AISYAH radhiallahu anha

Inilah pelajaran yang diberikan oleh guru besar para shahabat dan tabi’in sepeninggal Nabi selama 47 tahun; Aisyah istri Nabi, seperti yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi.

Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.

Aisyah menjelaskan,

“Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: guncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.

Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?

Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.”

Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.

Sangat gamblang dan jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab spiritual gempa. Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat bisa dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.



Inilah Kesimpulannya...

Dari semua pernyataan hamba-hamba terbaik Allah di muka bumi ini tentang gempa, ternyata penyebab spiritual gempa adalah sebagai berikut:

1. Sedikitnya orang-orang shiddiq dan syahid yang tinggal di atas muka bumi
2. Masyarakat telah melegalkan zina
3. Masyarakat telah mengkonsumsi khamar (narkoba)
4. Masyarakat telah memainkan musik

Dan Inilah 4 Solusi dari Khalifah Adil...

Umar bin Abdul Aziz yang memerintah tahun 99 H – 101 H dengan prestasi fantastik dalam memakmurkan masyarakatnya hanya dalam 29 itu memberikan solusi terhadap gempa. Hal ini berawal dari gempa yang terjadi di zaman pemerintahannya. Selepas gempa mengguncang, Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat instruksi kepada semua jajaran pejabatnya di seluruh negeri kekuasaannya. Dan inilah instruksinya,

“Gempa ini adalah sesuatu yang Allah azza wajalla gunakan untuk menegur hamba-hamba-Nya. Saya telah menulis perintah ke seluruh wilayah agar mereka keluar pada hari yang telah ditentukan pada bulan yang telah ditentukan, siapa yang mempunyai sesuatu maka bershadaqahlah karena Allah berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15)

14. Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), 15. dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. (Qs. Al-A’la: 14-15)

Dan katakanlah sebagaimana Adam berkata,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 23)

Dan katakanlah sebagaimana Nuh berkata,

وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (Qs. Hud: 47)

Dan katakanlah sebagaimana Yunus berkata,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Qs. Al-Anbiya’: 87)

Semoga tulisan yang sederhana ini dapat bermanfaat untuk kita semua, dan semuanya kembali kepada sikap tingkah laku perbuatan amalan yg kita lakukan, semoga Alloh mengampuni kekhilafan kita selama ini, dan semoga kita selalu introspeksi diri, saling mentausyiahi dalam kebenaran dan kesabaran.

Wallahu a’lam

Siapakah Wanita Yang Pertama Masuk Surga?


Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?”. Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya.

Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah ‘nepotisme’ (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Mmm, pencarian pun dimulai, sodare-sodare…

Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah tersebut. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.

“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.

“Saya Fatimah, putri Rasulullah”

“Oh, iya. Ada keperluan apa?”

“Saya hanya berkunjung saja”

“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”

“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”

“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”

“Tetapi Hasan masih anak-anak”

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”

“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.

Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.

“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”

“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”

“Dia perempuan?”

“Bukan, dia lelaki”

“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”

“Tetapi dia juga masih anak-anak”

“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”

“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa. Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali.

Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.

Menurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.

“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”

“Ada keperluan apa?”

“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”

“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.

“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.

“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”

Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”

“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”

“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”

“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”

“Ya… ternyata inilah rahasia itu”

“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.

“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

“Masya Allah… Subhanallah…

5 Kebiasan Hidup Sehat Rosululloh SAW

1. Selektif dalam Memilih Makanan yang Halalan dan Toyyiban, wal Mubarokatan fiih..

Rasulullah SAW hanya makan makanan yang halal, dalam arti bukan makanan haram yang diperoleh dari usaha atau cara yang tidak dibenarkan secara syariat. Dengan kata lain, Rasulullah SAW selalu makan makanan yang diperoleh dengan cara yang benar. Bukan makanan dari hasil curian, bukan berasal dari uang korupsi, dan sebagainya. Halal terkait dengan urusan akhirat. Sementara toyyib terkait dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya untuk kesehatan kita, atau bergizi atau tidaknya makanan yang kita makan. Sate kambing, sebagai contoh, memang merupakan makanan yang halal, karena diperoleh dari membeli dengan menggunakan uang dari jerih payah dalam bekerja, bukan uang korupsi dan atau bukan berasal dari hasil mencuri. Namun sate kambing bukan makanan yang toyyib bagi seseorang yang mungkin mengalami tekanan darah tinggi, dan berkah adalah yang diridhoi Alloh sehingga keberkahan mengandung unsur kebaikan buat tubuh, walau keberkahan itu tidak terlihat..


2. Tidak Makan Sebelum Lapar, dan Berhenti Makan Sebelum Kenyang.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW tidak makan sampai terlalu kenyang. Tidak makan sampai di luar batas kemampuan perutnya. Rasulullah mempertimbangkan kemampuan perut dengan perbandingan yang seimbang antara sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk udara (oksigen) di dalam perut. Perbadingan ideal tersebut hanya dapat dilakukan jika beliau tidak makan sebelum lapar, segera berhenti makan sebelum kenyang. Dengan kata lain, makan yang baik adalah pada waktunya. Penyakit maag pada umumnya terjadi karena cara makan yang tidak teratur.


3. Makan Dengan Tenang, Tumakninah, Tidak Tergesa-Gesa, Dengan Tempo Yang Sedang.

Cara makan yang dilakukan Rasulullah SAW ternyata sangat sesuai dengan anjuran kesehatan, agar kita mengunyah makanan sampai sekitar 32 kali, sehingga makanan yang kita makan sampai di usus besar dapat dicernakan dengan mudah, dan kemudian diserap di usus halus dengan mudah pula. Tugas usus akan sangat terbantu oleh cara makan yang tenang, tumakninah, tidak tergesa-gesa, dan dengan tempo yang sedang. Kita akan menikmati lezatnya makanan yang kita makan dengan cara makan yang demikian. Dan dengan demikian, rasa syukur akan muncul ketika kita makan, di samping memulai makan dengan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdallah.


4. Cepat Tidur dan Cepat Bangun.

Jika sudah waktunya tidur, maka Rasulullah SAW akan cepat tidur. Tidur yang tepat di malam hari kira-kira adalah seusai istirahat setelah shalat Isya, kurang lebih pukul 21.30. Kemudian kira-kira pukul 03.00 sudah bangun di pertiga malam untuk shalat malam. Dengan demikian waktu yang digunakan untuk tidur adalah kurang dari delapan jam. Dalam konteks ini, penggunaan waktu 24 jam dalam satu hari satu malam, adalah sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk beribadah kepada Allah, dan sepertiga lagi adalah untuk tidur yang cukup. Tentu saja, perbandingan ini tidaklah kaku, melainkan dalam pengertian dalam keseimbangan.

Dalam hal urusan tidur, beliau tidak tidur melebih kebutuhan, namun tidak juga menahan diri tidak menahan diri untuk tidur sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal kebutuhan tidur yang melebih kebutuhan ini pernah diadakan penelitian oleh Daniel F. Kripke, seorang ahli psikiatri Universitas California, Amerika Serikat. Penelitiannya yang dilakukan di Jepang dan Amerika Serikat selama 6 tahun dengan responden berusia 30 – 120 tahun, dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang memiliki kebiasaan tidur lebih dari 8 jam sehari memiliki resiki kematian yang lebih cepat. Hal ini sangat berlawanan dengan mereka yang memiliki kebiasaan tidur kurang dari delaman jam, 6 – 7 jam, maksimal 8 jam.

Menurut riwayat, cara tidur Rasulullah adalah miring ke kanan, menghadap kiblat. Jika sudah penat dengan cara ini, kemudian beliau miring ke kiri barang sejenak dan kemudian miring ke kanan kembali.


5. Selalu Istiqamah Melaksanakan Puasa Sunah, di Luar Puasa Wajib Ramadhan.

Dari segi kesehatan, puasa merupakan satu bentuk pemberian istirahat bagi sistem pencernaan makanan kita. Ibarat mesin, sistem pencernaan kita memerlukan masa overhaul atau turun mesin untuk merevitalisasi kemampuan mesin. Demikian juga dengan sistem pencernaan kita, juga memerlukan turun mesin agar dapat mempunyai tenaga kembali untuk melakukan tugasnya dalam mencernakan makanan dalam tubuh kita.

So sehat itu mudah dan tidak perlu mahal, berusaha mengikuti sunnah Rosul insya Alloh hidup kita kan lebih sehat.. Subhanalloh, begitu mulia rosul sampai mengajarkan kita melalui prilaku beliau yang sepanjang hidupnya beliau tidak pernah sakit..hanya Rosulullohlah teladan kita, dan terbaik prilakunya , semoga catatan kecil ini bermanfaat untuk kita semua sebagai bahan tambahan menyikapi prilaku hidup sehat kita sehari-hari..

01 Desember 2009

Keajaiban Manusia Akhir Zaman

Sesungguhnya keajaiban manusia di akhir zaman ini sangat banyak dan nyata sekali. Terkadang kita kurang jeli memperhatikannya sehingga terlihat dunia ini berjalan baik-baik saja. Namun, bila kita cermati dengan baik, kita akan menemukan segudang keajaiban dan keanehan dalam kehidupan manusia akhir zaman dan hampir dalam semua lini kehidupan. Keajaiban yang kita maksudkan di sini bukan terkait dengan persitiwa alam seperti gempa bumi, tsunami dan sebagainya, atau kejadian yang aneh-aneh lainnya, melainkan pola fikir manusia yang paradoks yang berkembang biak di akhir zaman ini. Berikut ini adalah sebagian kecil dari berfikir paradoks yang berkembang akhir-akhir ini dalam masyarakat luas. Lebih ajaib lagi, berfikir paradoks tersebut malah dimiliki pula oleh sebagian umat Islam dan para tokoh mereka. Di antaranya:


Bila seorang pengusaha atau pejabat tinggi melakukan korupsi milyaran dan bahkan triliunan rupiah, maka aparat penegak hukum dengan mudah mengatakan tidak ada bukti untuk menahan dan mengadilinya.


Namun, bila yang mencuri itu seorang nenek atau masyarakat bawah (lemah), dengan mudah dapat ditangkap, disidangkan dan diputuskan hukuman penjara, kendati mereka mengambil hanya satu buah semangka atau tiga buah kakau, mungkin saja karena lapar.


Bila ada orang atau kelompok dengan nyata-nyata merusak dan melecehkan ajaran Islam yang sangat fundamental, seperti Tuhan, Kitab Suci dan Rasulnya, di negeri-negeri Islam, maka orang dengan gampang mengatakan yang demikian itu adalah kebebasan berpendapat, berekspresi dan menafsirkan agama.


Namun, bila ada khatib, ustazd atau masyarakat Muslim mengajak jamaah dan umat Islam untuk konsiten dengan ajaran agamanya, maka orang dengan mudah menuduhnya sebabai khatib, penceramah atau ustazd yang keras dan tidak bisa berdakwah dengan hikmah, bahkan perlu dicurigai sebagai calon teroris.


Apa saja yang dituliskan dalam koran, dengan mudah orang mempercayainya, kendati itu hanya tulisan manusia dan belum teruji kebenarannya. Membaca dan mempelajarinya dianggap lambang kemajuan.


Akan tetapi, apa yang tercantum dalam Al-Qur’an belum tentu dipercayai dan diyakini kebenarannya, kendati mengaku sebagai Muslim. Padahal Al-Qur’an itu Kalamullah (Ucapan Allah) yang mustahil berbohong. Kebenarannya sudah teruji sepnajang masa dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. Akhir-akhir ini muncul anggapan mengajarkan Al-Qur’an bisa mengajarkan paham terorisme.


Tidak sedikit manusia, termasuk yang mengaku Muslim yakin dan bangga dengan sistem hidup ciptaan manusia (jahiliyah), kendati sistem yang mereka yakini dan banggakan itu menyebabkan hidup mereka kacau dan mereka selalu menghadapai berbagai kezaliman dan ketidak adilan dari para penguasa negeri mereka. Mereka masih saja mengklaim : inilah jalan hidup yang sesuai dengan akhir zaman.


Namun, bila ada yang mengajak dan menyeru untuk kembali kepada hukum Islam, maka orang akan menuduh ajakan dan seruan itu akan membawa kepada keterbelakangan, kekerasan dan terorisme, padahal mereka tahu bahwa Islam itu diciptakan oleh Tuhan Pencipta mereka (Allah) untuk keselamatan dunia dan akhirat dan Allah itu mustahil keliru dan menzalimi hamba-Nya.


Ketika seorang Yahudi atau agama lain memanjangkan jenggotnya, orang akan mengatakan dia sedang menjalankan ajaran agamanya.


Namun, saat seorang Muslim memelihara jenggotnya, dengan mudah orang menuduhnya fundamentalis atau teroris yang selalu harus dicurigai, khususnya saat masuk ke tempat-tempat umum seperti hotel dan sebagainya.


Ketika seorang Biarawati memakai pakaian yang menutup kepala dan tubuhnya dengan rapih, orang akan mengatakan bahwa sang Biarawati telah menghadiahkan dirinya untuk Tuhan-nya.


Namun, bila wanita Muslimah menutup auratnya dengan jilbab atau hijab, maka orang akan menuduh mereka terbelakang dan tidak sesuai dengan zaman, padahal mereka yang menuduh itu, para penganut paham demokrasi, yang katanya setiap orang bebas menjalankan keyakinan masing-masing.


Bila wanita Barat tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar karena menjaga, merawat rumah dan mendidik anaknya, maka orang akan memujinya karena ia rela berkorban dan tidak bekerja di luar rumah demi kepentingan rumah tangga dan keluarganya.


Namun, bila wanita Muslimah tingal di rumah menjaga harta suami, merawat dan mendidik anaknya, maka orang akan menuduhnya terjajah dan harus dimerdekakan dari dominasi kaum pria atau apa yang sering mereka katakan dengan kesetaraan gender.


Setiap mahasiswi Barat bebas ke kampus dengan berbagai atribut hiasan dan pakaian yang disukainya, dengan alasan itu adalah hak asasi mereka dan kemerdekaan mengekpresikan diri.

Namun, bila wanita Muslimah ke kampus atau ke tempat kerja dengan memakai pakaian Islaminya, maka orang akan menuduhnya eksklusif dan berfikiran sempit tidak sesuai dengan peraturan dan paradigma kampus atau tempat kerja mereka.


Bila anak-anak mereka sibuk dengan berbagai macam mainan yang mereka ciptakan, mereka akan mengatakan ini adalah pembinaan bakat, kecerdasan dan kreativitas sang anak.

Namun, bila anak Muslim dibiasakan mengikuti pendidikan praktis agamanya, maka orang akan mengatakan bahwa pola pendidikan seperti itu tidak punya harapan dan masa depan.


Ketika Yahudi atau Nasrani membunuh seseorang, atau melakukan agresi ke negeri Islam khususnya di Paestina, Afghanistan, Irak dan sebagainya, tidak ada yang mengaitkannya dengan agama mereka. Bahkan mereka mengakatakan itu adalah hak mereka dan demi menyelamatkan masyarakat Muslim di sana.


Akan tetapi, bila kaum Muslim melawan agresi Yahudi atas Palestina, atau Amerika Kristen di Irak dan Afghanistan, mereka pasti mengaitkannya dengan Islam dan menuduh kaum Muslim tersebut sebagai pemberontak dan teroris.


Bila seseorang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain, maka semua orang akan memujinya dan berhak mendapatkan penghormatan.


Namun, bila orang Palestina melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anaknya, saudaranya atau orang tuanya dari penculikan dan pembantaian tentara Israel, atau menyelamatkan rumahnya dari kehancuran serangan roket-roket Israel, atau memperjuangkan masjid dan kitab sucinya dari penodaan pasukan Yahudi, orang akan menuduhnya TERORIS. Kenapa? Karena dia adalah seorang Muslim.


Bila anak-anak Yahudi diajarkan perang dan senjata otomatis untuk membunuh kaum Muslimin Palestina, maka orang akan menegatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah upaya membela diri kendati mereka adalah agresor.


Namun, bila anak Palestina belajar melemparkan batu menghadapi prajurit Yahudi yang dilengakapi dengan tank dan senjata canggih lainhya saat menghancurkan rumah, masjid dan kampung mereka, maka orang akan menuduh mereka sebagai pelaku kejahatan yang pantas ditangkap, dipatahkan tangannya dan dipenjarakan belasan tahun.

Nah, inilah sekelumit keajaiaban manusia di akhir zaman ini. Bisakah kita mendapatkan pelajaran yang baik sehingga dapat menentukan sikap yang benar, atau kita akan jatuh menjadi korban keajaiban akhir zaman? Allahul musta’an….(fj)


nb: sumber dr http://eramuslim.com/berita/dunia/keajaiban-manusia-akhir-zaman.htm

29 Oktober 2009

Al-Aqsha dalam bahaya, kami penuhi panggilanmu wahai Al-Aqsha

Khutbah Munasharah Al-Aqsha, 01-10-2009

Penerjemah:

Abu Ahmad

________

Pada saat kondisi adanya pembekuan informasi terhadap apa yang terjadi dan adanya berbagai konspirasi terhadap masjid Al-Aqsha yang penuh berkah, Ikhwanul Muslimin menyeru kepada seluruh umat, para pemberi nasihat, para khatib dan para ustadz ilmu-ilmu syar’i serta mereka menjadi khatib pada hari jum’at ini -13 Syawal 1430/2 Oktober 2009- dan akan datang tema tentang Al-Aqsha dan kepada kalian semua, dan kami sampaikan usulan tema khutbah jum’at.


Al-Aqsha dalam bahaya, kami penuhi panggilanmu wahai Al-Aqsha

Akhi… para khatib, ini adalah usulah khutbah jum’at yang mungkin dapat dijadikan pilihan tentang permasalah yang berkaitan dengan apa yang terjadi terhadap masjid kalian yaitu masjid Al-Aqsha.

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarganya, sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya.. selanjutnya…

Bahwa apa yang terjadi terhadap masjid Al-Aqsha akan usaha dan taktik jahat Zionis untuk membakar dan menghancurkannya dan menghilangkan berbagai simbol-simbolnya, meyahudisasikannya dan mengusir seluruh warga aslinya adalah nyata, maka dari itu adalah wajib atas setiap umat Islam yang memiliki jiwa yang bebas, merdeka dan mulia, untuk bergerak menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, mempertahankan masjid Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina.

Dan hal ini berhubungan dengan kita adalah karena permasalahan kemanusiaan secara adil dan proporsional karena tampak di dalamnya adanya kezhaliman, penindasan, pembunuhan, pengabaian ruh dan penghancuran segala sendi-sendi kehidupan, dan yang terjadi di Gaza akhir-akhir ini tidak begitu jauh sebgai contoh ongkretnya.

Namun ini merupakan permasalahan Islam yang tidak bisa membebaskan umat Islam dihadapan Allah kecuali dengan mendukung ikhwan mereka yang berada di Palestina, dan bekerja dengan segala sarana dan cara untuk mengembalikan masjid Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina seluruhnya.

Pada akhir-akhir ini kita mengenang peristiwa yang mengenaskan yaitu peristiwa pembakaran masjid Al-Aqsha pada pagi kamis tanggal 21-08-1969, dimana Yahudi berusaha membakar masjid Al-Aqsha untuk membangun dan mendirikan Haikal yang mereka tuduhkan, dan tidak berhenti hanya itu saja, namun mereka juga berusaha dengan gigih dan semangat yang tinggi untuk menghancurkan Al-Aqsha dan meyahudikannya serta menghilangkan berbagai simbol-simbol Islam dan Arab yang ada di Al-Quds dan Palestina.

Dari sini wajib bagi kita merenungkan diri dan berfikir bagaimana caranya untuk dapat menolong dan membela masjid Al-Aqsha, mengenal dan memahami permasalahan yang dialami masjid Al-Aqsha dan Al-Quds dan apa yang sedang dialami masjid-masjid kita lalu menentukan peran apa yang dapat dan haurs kita lakukan.

Adapun peran yang dapat kita lakukan adalah:

Pertama:

Memahami posisi Masjid Al-Aqsha dan kedudukannya

Masjid Al-Aqsha memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam Islam dan posisi yang strategis bagi umat Islam, karena:

• Sebagai tempat Isranya Rasulullah saw, sebagaimana firman Allah SWT:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Isra:1)

Allah SWT telah memperjalankan Rasulullah saw di malam hari (isra) dari masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha dan di dalamnya Rasulullah saw berkesempatan menjadi imam dengan para nabi dan berpindahnya warisan kenabian dan bendera risalah dari para nabi kepada Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul dan hal tersebut terjadi di masjid Al-Aqsha.

• Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam: Rasulullah saw telah melanunaikan shalat bersama umat Islam saat berada di Madinah selama 16 atau 17 bulan sampai turun perintah dari Allah untuk menghadap masjid Al-Haram. Allah berfirman:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Al-Baqarah:144)

• Shalat di dalamnya sama dengan melakukan shalat di tempat lainnya sebanyak 500 kali: Rasulullah saw bersabda:

الصلاة في المسجد الحرام بمائة ألف صلاة والصلاة في مسجدي بألف صلاة، والصلاة في بيت المقدس بخمسمائة صلاة

“Shalat di Masjid Al-Haram nilainya sama dengan seratus ribu kali, shalat di Masjidku (masjid nabawi) sebanyak seribu kali, sedangkan shalat di Baitul Maqdis sama dengan lima ratus kali shalat di tempat lainnya”. (Thabrani, hadits Hasan)

• Merupakan salah satu masjid yang diperintahkan untuk dikunjungi: seperti hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Abu Daud, dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian berkunjung kecuali pada tiga tempat: Masjid Haram, Masjidku ini, dan masjid Al-Aqsha”.

Kedua:

Masjid Al-Aqsha di bawah naungan umat Islam

• Bahwa adanya rihlah Isra dan Mi’raj, shalatnya Rasulullah saw di masjid tersebut menjadi imam para nabi merupakan maklumat akan berpindahnya kepemimpinan manusia kepada nabi Muhammad saw, kepada umatnya setelahnya dan bahwasanya masjid Al-Aqsha aqsha adalah masjid umat Islam yang diperintahkan untuk menghadapnya sebagai qiblat pertama, dan sebagai isranya Rasulullah saw.

• Al-Faruq, Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khattab melakukan safar ke Palestina pada saat penduduknya mensyaratkan penyerahan kuncinya kepada Amirul Mukminin dengan dirinya sendiri dan beliau melakukan itu seperti yang inginkan, dan inilah kota satu-satunya pada masa khalifah Rasyidin yang menjadi memimpin dengan sendirinya untuk menerima kunci, padahal saat itu Umar sama sekali tidak pergi untuk menaklukkan madain, ibukota Persia, dan Basrah di Syam ibukota Romawi namun beliau pergi untuk menerima kunci Baitul Maqdis dan masjid Aqsha karena kedudukan dan posisinya.

• Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khattab juga menulis perjanjian yang memberikan keamanan dan jaminan umat Nasrani atas diri mereka, harta, gereja, salib, orang-orang yang menderita dan merdeka dan seluruh milahnya.

• Penaklukkan Umar atas Baitul Madis pada tahun 15 H/636 M, ketika umat memasukinya dengan cara damai, dan memberikan kepada penduduknya rasa aman melalui perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Umar, dan perjanjian ini dibuat untuk memperkokoh ikatan politik dan hak legal Islam terhadap Al-Quds dan Palestina. Dan setelah diterimanya kunci kota Al-Quds dari Kaisar Romawi, Shafarniyus, Umar berjalan ke tempat suci yang pada saat telah hancur, lalu beliau mengunjungi Kubah Shakrah (kubah emas) yang mulia dan memerintahkan untuk membersihkannya sebagaimana beliau memerintahkan untuk mendirikan masjid di bagian selatan dari kota suci tersebut, kemudian beliau sengaja menerbitkan bagian administrasi kota dan mendirikan dua kantor, mendirikan kantor pos, dan mengangkat Yazid bin Abu Sufyan sebagai gubernur, dan mengangkat Ubadah bin As-Shamit sebagai hakim di dalamnya dan atas para prajurit Palestina.

• Banyak dari para sahabat dan tabi’in serta ulama yang tinggal di Palestina oleh karena keutamaan dan keberkahan di dalamnya.

• Umawiyun dan perkembangan pembangunan Al-Aqsha: sebagaimana Khalifah Umar bin Al-Khattab dan para khalifah Rasyidun setelahnya sangat mengidamkan untuk dapat menaklukkan Baitul Maqdis dan masjid Al-Aqsha secara nyata, dan memasukkannya sebagai Darul Islam dan negara umat Islam, bahwa para khulafa Umawiyah memberikan keutamaan dalam membentuk arah peradaban Islam selama memakmurkan daerah masjid Al-Aqsha yang diberkahi dengan melakukan pembangunan yang sesuai dengan keagungan, kestabilan dan kesejahteraan Negara Islam yang kaya, seperti pelaksanaan pembangunan pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan dan anaknya Khalifah Al-Walid, yang mencakup pembangunan kubah emas dan kubah silsilah pada masa khalifah Abdul Malik, dan pembangunan masjid Al-Aqsha dan darul imarah, pintu-pintu dan simbol-simbol lainnya beragam –walaupun berhadapan dengan tekanan yang sangat keras yang terjadi di baitul maqdis dan Palestina- pada masa khalifah Al-Walid.

• Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “sejarah Ibnu Atsir” bahwa para khalifah Abbasiyah juga berusaha dengan kekuatan mereka untuk membangun masjid Al-Aqsha yang diberkahi; namun tanpa perubahan yang signifikan dalam bentuk pembangunan direncanakan dan pernah dilakukan oleh khalifah Umawiyah, mereka melakukan renovasi yang beragam khususnya renovasi bangunan kubah emas pada masa khalifah Abbasiah Al-Ma’mun, begitupun renovasi bangunan masjid Al-Aqsha yang selesai pada masa khalifah Abbasiyah Al-Mahdi.

• Al-Ayyubiyun juga berusaha membangun kembali Al-Aqsha: pembangunan masjid Al-Aqsha yang penuh berkah pada masa Al-Ayyubiyah setelah berhasil dimerdekakan dan disucikan kembali dari para salibis yang telah mengotori dan merubah beberapa simbol-simbolnya, pada saat itu sang pemimpin fenomenal Shalahuddin Al-Ayyubi yang beri’tikad pada dirinya tidak akan senyum sampai baitul Maqdis bebas dari kekuasaan salibis, hal itu terjadi pada tahun 583 H/4 Juli 1187. Dan akhirnya berhasil menaklukkan baitul maqdis pada tanggal 27 Rajab tahun 573 H/ 2 Oktober 1187, setelah sebelumnya dijajah dan dikuasai oleh kaum salibis selama 88 tahun; pada saat itu Al-Ayyubiyun berhasil mengembalikan kondisi masjid Al-Aqsha seperti sedia kala, kemudian memperbaikinya, membangunnya serta menambah beberapa jalan-jalannya, dan hal tersebut menjadi titik tolak pertama dalam menumbuhkan dan mengembangkan pembangunannya.

• Sebagaimana Para raja juga ikut memberikan kontribusinya secara nyata dan kuat dalam menampilkan karakter bangunan Islam dan masjid Al-Aqsha yang diberkahi, melakukan pembangunannya secara sempurna pada masa khalifah Umawiyah, dan pada itulah tercapai kesempurnaan bentuk bangunan masjid Al-Haram yang merupakan perwujudan Islamiyah masjid Al-Aqsha yang penuh berkah sepanjang masa, mereka melakukan pembangunan kembali akan simbol-simbol masjid Al-Haram, sekolah-sekolah keagamaan yang berada dalam tanggungannya, pengeras suara untuk azan dan pintu-pintunya, sebagaimana mereka juga melakukan pembangunan kubah-kubah, lorong-lorong, mihrab yang menyebar hingga sekarang di pelataran masjid Al-haram.

Ketiga:

Tipu daya dan ketamakan Yahudi terhadap Al-Quds dan masjid Al-Aqsha.

Pada abad yang lalu umat Islam mengalami kelemahannya dan terjadi perpecahan di dalamnya yang disebabkan jatuhnya Negara khilafah Utsmaniyah, dan pada saat itu, terbentuklah lembaga zionis modern dan menuntut kembalinya Yahudi sebagai bumi yang disucikan untuk menghidupkan kenabian Taurat yang telah disimpangkan, dan tampak dalam cara mewujudkan tujuan yang keji zionis nasrani bekerja sama dengan zionis yahudi, dengan menghilangkan perbedaan historis agama antara yahudi dan nasrani hingga waktu yang tidak ditentukan untuk menghadapi perang dengan umat Islam, dan melepaskan bumi yang disucikan itu dari mereka, dan hal tersebut berhasil dilakukan; ketika sekelompok penjajah berhasil merangsek negeri Syam, menguasai bumi yang disucikan untuk dirampas kekayaannya, lalu masuk tentara Inggris ke bumi yang disucikan tersebut, hingga pada saat itula masjid Al-Aqsha hingga sekarang berada dibawah kekuasan umat Islam, dan mereka terus menyalakan api perang dan pengrusakan atas masjid yang penuh berkah ini sampai terjadi kondisi ironi yang memilukan berupa kekalahan pasukan Arab dan masjid Al-Aqsha berada dibawah kekasaan zionis untuk pertama kalinya dalam sejarah umat Islam.

Yahudipun bergembira dengan keberhasilan tersebut, dan mereka mengumandangkan jargon-jargon Khaibar, menyeru kembalinya Yatsrib, dan bahkan mensenandungkan nasyid yang merobek hati dan perasaan orang-orang yang memiliki kecemburan dan sensitifas dari kalangan umat Islam; saat itu mereka bersenandung: “Muhammad telah mati dan meninggalkan banyak wanita”, maksudnya adalah arab dan ibrani. Namun sebagian dari umat Islam yang menjaga kesuciannya tetap tegar menjaga masjid Al-Aqsha sekalipun berada dalam genggaman pemerintah dan kekuasaan Yahudi, mereka rela mengorbankan ruh dan jiwa mereka, bahkan bergantian untuk menjaga dan melindunginya, serta mereka juga berusaha merenovasi sebagian masjid yang rusak.

Namun zionis tidak berhenti melakukan penghancuran masjid Al-Aqsha dan akan menggantinya dengan haikal yang mereka sucikan, mereka berusaha mengekang denyut nadi umat Islam, berusaha mematikan perasaan sensitfitas mereka terhadap masjid yang diberkahi, melalui pembangunan terowongan dan menghancurkan bagian-bagian sucinya, jalan-jalannya dan jembatan-jembatan yang melintasinya, memberants orang-orang yang fanatik terhadap masjid tersebut dengan cara membakar, menghancurkan dan meledakkan sebagian bentuknya; dengan harapan dapat menghancurkan mereka, sekalipun Allah masih melindunginya.

Dan setelah berlalu dua tahun, seorang wisatawan Yahudi Michael Denis melakukan pembakaran Mimbar Shalahuddin dan bagian terbesar dari masjid tersebut, dan pada saat itu pasukan penjajah melambat-lambatkan tugasnya untuk mematikan api, dan bahkan mereka berusaha menghalang-halangi usaha penduduk dari umat Islam untuk mematikan api yang dapat menghancurkan masjid tersebut.

Adapun rencana penghancuran masjid Al-Aqsha lebih banyak lagi, sedangkan lembaga-lembaga zionis yang didirikan untuk menghancurkan masjid dan membangun Haekal terus bertumbuhan hingga berjumlah 20 lembaga, sebagaimana usaha-usaha permusuhan yang dilakukan secara personal dan kelompok untuk menghancurkan Al-Aqsha dan menjajahnya, atau membakarnya, atau meledakkannya, atau meneror orang-orang yang shalat di dalamnya hingga berjumlah ratusan kali, adapun usaha penghancuran masjid haram dan jalan-jalannya merupakan salah satu dari berbagai usaha keji mereka, yang mana yahudi tidak pernah berhenti untuk melakukannya dan berikukuh bahwa usaha mereka akan berhasil.

Empat:

Al-Aqsha dalam bahaya

• Pada tahun 1967 Israel mengumumkan integrasi kota Al-Quds utara dengan Al-Quds Barat, dan menganggapnya sebagai satu kota, hal itu terjadi pada tanggal 28/6/1967.

• Pada tanggal 5/8/1980, Israel mengumumkan juga bahwa Al-Quds bersatu merupakan ibukota abadi. Dan berusaha melakukan yahudisasi Al-Quds bagian timur dengan cara perlahan dan tenang.

Dan hal itu terdiri dari beberapa point berikut:

1. Melakukan tindak kriminal pembakaran masjid Al-Aqsha pada kamis pagi tanggal 21/8/1969

2. Melakukan penggalian terowongan yang tepat berada di bawah pelataran masjid Al-Aqsha dan di bawah dinging-dindingnya serta pada beberapa titik lainnya dengan tujuan mencari Haekal Sulaiman yang menjadi klaim mereka, dan merupakan acaman penghancuran dan perobohan masjid Al-Aqsha.

3. Menumbuhkan kota yang disucikan, perkampungan dan perkotaannya dengan pendudukan, menguasai sebagian besar bumi Palestina secara umum, dan bumi Al-Quds secara khusus, menghancurkan bangunan dan rumah-rumah milik warga Arab dengan alasan tidak memiliki izin resmi, dan pada saat yang bersamaan mereka melarang pengeluaran izin pembangunan untuk warga Arab dan memudahkan perizinan untuk warga yahudi.

4. Melakukan pembantaian masal di kota al-Quds seperti apa yang terjadi di masjid Al-Aqsha dan kubah emas, haram al-ibrahimi di kota Al-Khalil dan pada beberapa tempat lainnya di kota Palestina.

5. Berusaha secara terus menerus melakukan pengusiran dan deportasi atas penduduk dan warga aslli kota Al-Quds sehingga menjadikan mereka sebagai mayoritas dari yang lainnya, hal tersebut dilakukan dengan cara penarikan identitas milik warga asli dan mewajibkan pajak yang tidak masuk akal atas mereka dan melarang mereka mendapatkan pelayanan sosial yang layak.

6. Memisahkan kota yang disucikan secara khusus dan bumi Palestina secara umum dengan membangun tembok rasial pemisah, yang menjadikan bumi Palestina sebagai penjara terbesar, dan menyebabkan terisolirnya Al-Quds dari sebagian kota dan desa di Palestina.

7. Melarang warga Arab untuk sampai ke kota Al-Quds dan menghalangi mereka untuk menunaikan shalat di masjid Al-Aqsha.

8. Melakukan pembatasan secara ketat orang-orang yang diperbolehkan masuk masjid Al-Quds yaitu dengan cara pembatasan umur tertentu, siapa yang boleh masuk masjid, khususnya pada hari jum’at sehingga menyebabkan banyak dari kalangan pemuda yang menunaikan shalat jum’at di jalan-jalan.

9. Berusaha menutup lembaga-lembaga Arab dan Islam di kota Al-Quds terutama lembaga-lembaga akademi, sosial dan tsaqafah.

10. Berusaha mengimplementasikan –dengan cara cepat- rencana pembangunan “Al-Quds Raya” melalui perluasan lahan di atas tanah milik warga Arab. Hal ini menjadi pertanda akan bahaya yang sangat besar dan jelas yang mengancam kota Al-Quds, dan bahaya ini menjadi bertumpuk-tumpuk dan bertambah hari demi hari.

11. Melakukan pembunuhan dan penangkapan terhadap warga mulai dari para pemuda baitul maqdis, kota-kota dan desa-desa di Palestina, sehingga hal tersebut menyebarkan perasaan takut dan teror atas mereka.

12. Melakukan penyebaran berbagai acara dan lainnya untuk merusak para pemuda seperti narkoba dan lain-lainnya.

Rencana baru dalam rangka membangun haekal

Pada Koran Haaretz zonis tersebar berita yang intinya: “Bahwa lembaga Yahudi yang diberi nama dengan lembaga umana al-haikal dipersiapkan untuk membuat rencana baru dalam membangun haikal ketiga, Koran tersebut mengungkapkan: “Bahwa pada tahun 1987, DR. Damous Orkon mendirikan lembaga (yayasan) bangunan haikal, yaitu sebagai yayasan yang dekat dengan partai Likud, yayasan ini meyakini bahwa tidaklah realistis pada kondisi saat ini membangun haikal diatas masjid Al-Aqsha; karena itu mereka melakukan persiapan perencanaan baru untuk membangun haikal yang berbeda dengan rencana yang telah dibuat oleh lembaga yang diberi nama (lembaga umana gunung Haikal), yang meyakini akan mampu menghilangkan masjid Al-Aqsha dan membangun haikal ketiga di atasnya”.

Koran tersebut juga menyebutkan: bahwa rencan yang dijabarkan oleh yayasan pembangunan haikal yang secara ringkas terdiri dari bangunan atap yang luas yang dibangun diatas tanah pelataran al-buraq, (diatas jalan Al-Mugharibah yang telah dihancurkanoleh penjajah zionis tahun 1967), berpokus pada 10 tiang yang tinggi sebagai simbol dari 10 amandemen, dan diatas bangunan yang tinggi tersebut dibangun haikal ketiga. Haaretz menambahkan: agar haikal tersebut dapat disebut sakral, maka persiapan rencana baru, yang mereka maksudkan adalah pembuatan terowongan yang membentang dari tengah bangunan yang disebutkan hingga masuk masjid Al-haram yang suci dekat dengan kubah emas, dan di tengah terowongan yang muncul dari dalam masjid al-haram hingga haikal yang disebutkan-seperti yang mereka tudunkan.

Sementara itu yayasan Al-Aqsha terhadap rencana baru ini menambahkan: bahwa rencana baru/lama dan yang semisalnya menegaskan kepada orang-orang yang keras kepada dan hina bahwa ada entitas separatis zionis tantang apa yang dituduhkan dengan haikal ketiga; sehingga menunjukkan dalil yang jelas bahwa masjid Al-Aqsha hari ini berada dalam ancaman yang datang dari sekelompok yahudi yang kadang dilakukan dengan penyerangan keji untuk mewujudkan ketamakkan mereka untuk pembangunan haikal ketiga yang mulai tampak nyata hari demi hari, dibawah dukungan resmi dari yayasan zionis sehingga mengharuskan kita untuk berhati-hati dan tetap siaga terhadap berbagai rencana ini yang merupakan ancaman besar bagi masa depan masjid Al-Aqsha yang penuh berkah.

Dan yayasan Al-Aqsha dalam keterangannya meminta kepada yayasan Palestina dan Arab serta Islam tentang kondisi masjid Al-Aqsha, dengan tuntutan untuk dapat melakukan berbagai invasi nformasi terkait dengan permasalahan dan ancaman yang sedang dialami dan menimpa masjid Al-Aqsha, memberikan penjelasan yang seimbang, dan memberikan keterangan dengan bentuk yang jelas dan kongkret sebagai bentuk kewajiban umat terhadap masjid Al-Aqsha yang sedang menghadapi ancaman yang sangat berbahaya.

Sebagian tulisan dan buku-buku zionis juga mengisyaratkan bahwa sedang berlangsung usaha pengadaan gempa buatan di tempat yang paling dekat dengan masjid Al-Aqsha, ditambah dengan usaha penghancuran secara terus menerus terhadap pondasi masjid melalui terowongan yang mereka buat, sehingga akan mempermudah penghancuran masjid, dan dari sini orang-orang Israel akan mudah mengkalim bahwa masjid Al-Aqsha hancur karena kondisi alam (gempa alami), dan yang dapat ditelusuri dan disaksikan saat ini adalah adanya usaha yang terus menerus penghancuran salah satu tembok masjid Al-Aqsha yang berada dekat dengan pintu bagian barat.

Lima:
Peran kita secara individu dan lembaga dalam melindungi dan mempertahankan masjid Al-Aqsha

Bagaimana kita bisa melepaskan tanggung jawab kita nanti dihadapan Allah: bahwa masjid Al-Aqsha sedang menghadapi ancaman serius akhir-akhir ini, karena keangkuhan Yahudi yang telah melampaui batas; pembunuhan, pengusiran, penghancuran dan perobohan rumah-rumah, blokade ekonomi yang mengerikan, yang mana hal tersebut telah menjadikan sinyal nyata akan bahaya yang mengancam bumi Palestina terutama masjid Al-Aqsha; perkaranya telah jelas, tujuannya sudah ditentukan, konsepnya pun telah dimatangkan untuk menghancurkan masjid Al-Aqsha dan membangun haikal diatas reruntuhannya, sementara itu tidak ditemukan dari umat Islam usaha untuk menghadang dan menghalangi serta menolkanya kecuali hanya sekelompok orang saja.

Padahal Rasulullah selalu memotivasi umat Islam untuk terus berkomunikasi dan menjalin hubungan antara mereka dengan baitul maqdis; seperti kehadiran beliau di masjid Al-Aqsha, penghormatan beliau dengan shalat di dalamnya, mengirimkan minyak untuk bahan bakar dan penerang lampu-lampunya, dan memberikan kabar gembira bahwa al-Quds akan ditaklukkan dan akan menjadi milik umat Islam, dan hal itu terjadi; penaklukan al-Quds pada tahun kelima belas hijriyah.

روى الإمام أبو داود في سننه بسنده عَنْ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةِ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ؟ فَقَالَ:”ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ”، وَكَانَتْ الْبِلَادُ إِذْ ذَاكَ حَرْبًا، “فَإِنْ لَمْ تَأْتُوهُ وَتُصَلُّوا فِيهِ، فَابْعَثُوا بِزَيْتٍ يُسْرَجُ فِي قَنَادِيلِهِ”.

Imam Abu Daud dalam sunannya meriwayatkan dari Maimunah budak Rasulullah saw berkata: wahai Rasulullah saw, berikan fatwa kepada kami tentang baitul maqdis? Beliau bersabda: pergilah kesana dan shalatlah di dalamnya, dan pada saat itu negeri tersebut dalam kondisi perang, namun jika kalian tidak dapat pergi kesana dan shalat di dalamnya, maka kirimkanlah minyak untuknya sehingga dapat membuat terang lampu-lampunya”.

Bahwa kewajiban umat Islam saat ini adalah bergerak untuk menyelamatkan tempat isranya Rasulullah saw, dan melindungi masjid Al-Aqsha, serta mempertahankannya dengan berbagai sarana, setelah lama dinistakan oleh para penjajah; dan ini merupakan kewajiban akidah dan agama, karena Al-Aqsha adalah bagian dari agama kita, bagian dari akidah kita dan bagian dari ayat Al-Qur’an Al-Karim.

1. Peran personal tidak kalah pentingnya dari peran secara kelompok; dengan menghadirkan niat yang bersih untuk membela dan melindungi Al-Aqsha, berdoa setiap hari untuk keselamatan masjid Al-Aqsha, menyebarkan berita yang berimbang dan aktif dalam berbagai program di radio dan televisi serta internet, hadir dalam berbagai acara dan kegiatan yang berkaitan dengannya, berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan secara materil dalam memperkuat eksistensi masjid Al-Aqsha seperti pembuatan lembaga swadaya dengan nama yayasan al-aqsha, atau lembaga untuk anak-anak dengan nama kotak peduli untuk anak-anak Al-Aqsha, atau mengkhususkan sedekah secara materi setiap hari untuk mendukung Al-Quds dan masjid Al-Aqsha.

2. Peran keluarga; melalui pengajaran sejarah dan permasalahan masjid Al-Aqsha, mengalokasikan belanja keluarga selama satu hari untuk mendukung dan solidaritas masjid Al-Aqsha, mengingatkan anak-anak mereka akan keutamaan masjid Al-Aqsha melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi, atau membuat perpustakaan kecil yang terdiri dari buku-buku kecil, koran-koran, kliping, dan kaset tentang masjid Al-Aqsha.

3. Peran media, wartawan dan cendekiawan dalam menulis makalah di berbagai media, mendukung berbagai makalah dan opini di media dengan gambar-gambar dan petunjuk-petunjuk yang menjelaskan akan besarnya penderitaan masjid Al-Aqsha, melawan arus media zionis, menolak berbagai syubhat dan kebatilan mereka tentang masjid Al-Aqsha, mengadakan nadwah, muhadharah, konfrensi, muktamar khusus tentang masjid Al-Aqsha, serta melakukan lomba dan kompetisi tahunan tentang sejarah dan islamnya masjid Al-Aqsha yang penuh berkah.

4. Kewajiban para imam, khatib dan para duat dalam menghidpukan hadits nabi tentang keutamaan masjid Al-Aqsha, membuat bagian khusus tentang masjid Al-Aqsha di perpustakaan masjid, kotak peduli, perpustakaan visual, memasang gambar masjid Al-Aqsha, dan mengajak jamaah masjid untuk puasa dan qiyam serta berdoa untuk keselamatan masjid Al-Aqsha yang penuh keberkahan.

5. Peran ikhwah para pengguna internet, dalam memfungsikan penggunaan kekuatan dialog dan chatting, dialog langsung dan tidak langsung, selama dilaksanakan dialog dan seminar-seminar, untuk membicarakan tentang masjid Al-Aqsha, dan juga mendiriknan berbagai website khusus untuk mengenalkan tentang masjid Al-Aqsha dan perkembangan berita terkini, disertai dengan ekspansi secara luas melalui e-mail.

6. Peran lembaga-lembaga dan club-club dalam mengadakan acara drama tentang masjid Al-Aqsha, pameran dan film yang semuanya berkaitan dengan masjid al-aqsha, mengkhususkan salah satu bagiannya untuk kemenangan masjid Al-Aqsha, membuat pameran secara paten di perpustakaan-perpustakaan serta dalam bentuk kaset-kaset.

7. Bekerja sama dengan berbagai lembaga dan yayasan yang mendukung permasalahan Palestina dari sisi kemanuisaan secara adil, dan ikut serta dan berpartisipasi dalam berbagai macam acara dan kegiatannya.

Enam:

Berbagai sisi untuk mempertahankan dan melindung Al-Aqsha

Umat islam di seluruh penjuru dunia; baik timur dan barat selayaknya segera bergerak untuk mempertahankan al-Quds dan Palestina dalam berbagai macam sarana dan medannya, dalam berbagai macam panda gangan, karena al-Aqsha dalam kondisi kritis. Dan inti dari itu semua adalah:

• Sisi kemanusiaan: dengan mengenalkan ke seluruh dunia secara menyeluruh bahwa permasalahan palestina, yang merupakan permasalahan kemanusiaan, sehingga harus dipertahankan dan dibela terhadap orang-orang yang mempertahankannya dari sisi hak asasi manusia ndan memberikan solidaritasnya secara adil, berusaha menghentikan kezhaliman, kesombongan dan kebiadaban zionis dan konspirasi internasional.

• Sisi ekonomi; yaitu dengan cara:

a. Mengajak Negara-negara Arab dan Islam untuk membuat satu timbangan yang integral dan menyeluruh –dalam jangka waktu yang panjang- guna mendukung akan ketegaran warga al-Quds khususnya dan merenovasi tempat-tempat yang disucikan.

b. Melakukan embargo ekonomi dari umat Islam kepada siapa saja yang mendukung entitas zionis.

c. Memberikan sumbangan ekonomi bagi Al-Quds dan Al-Aqsha merupakan kewajiban atas setiap umat Islam.

• Sisi politik; yaitu dengan melakukan:

a. Persatuan Arab dan umat Islam kepada tali agama Allah dan saling bekerja salam dalam kebaikan dan taqwa.

b. Membangun solidaritas Arab dan umat Islam serta Nasrani dalam memberikan sikap yang satu terhadap sikap keji zionis.

c. Mengarahkan para dubes Arab dan Islam untuk memberikan perhatian akan permasalahan Al-Quds dan menganggapnya sebagai salah satu agenda kegiatan diplomasinya di berbagai Negara yang ditempati dan dikunjunginya.

d. Menyeru terwujudnya persatuan dan kesepakatan terhadap berbagai faksi yang ada di Palestina untuk berpegang teguh pada hak-hak dan tsawabit Palestina.

• Sisi sosial: yaitu dengan selalu berkomunikasi dengan keluarga dan warga Al-Quds serta orang-orang yang tegar dan tetap menjaga dan mempertahankan masjid Al-Aqsha, berusaha sekuat tenaga untuk meringankan mereka dan membantu mereka secara moril dan materil.

• Sisi media:

a. Menjelaskan posisi Al-Quds dan Al-Aqsha dan hal-hal yang berkaitan dengannya tentang konspirasi akan rencana keji zionis secara khusus dan yang berkaitan dengan bumi Palestina secara khusus.

b. Memberikan bagian khusus yang memadai melalui siaran-siaran Arab dan islam untuk membicarakan pentingnya Al-Quds dan posisinya, dan menggunakan dengan berbagai macam bahasa internasional guna mengarahkan opini umum dan dunia untuk dapat berkontribusi dalam memformulasi dan mengarahkan perasaan dan akal opini umum dan khusus.

c. Mengefektifkan kerja sama dengan berbagai jaringan internet untuk menghadang serangan zionis tentang hak-hak arab dan Islam di Al-Quds dan Palesina.

• Sisi keilmuan dan akademi: yaitu melalui;

a. Membentuk panitia solidaritas Al-Quds dalam berbagai lembaga akademi dan kelimuan pada tingkat dunia arab dan islam.

b. Menyeru seluruh civitas universitas dan sekolah dari Negara-negara Arab dan Islam untuk mengajarkan tempat-tempat suci di baitul maqdis, dan memotivasi untuk melakukan kajian dan pembahasan tentang al-quds, menyiapkan berbagai perlombaan dan kompetisi tentang permasalahan ini dan hadiah untuk memotivasi hal tersebut.

c. Bekerja sama dengan berbagai lembaga dan yayasan akademi untuk mengkaji sejarah dan kondisi Al-Aqsha dan Al-Quds, mendukung untuk membahas dan mengkajinya dalam berbagai hal.

d. Berusaha menghadirkan kajian strategis yang menyeluruh untuk menghadapi dan melawan zionis, dan tidak berinteraksi dengan kondisi dengan reaksi yang bertolak belakang, atau memenuhi kondisi tertentu, atau memberikan investasi untuk kesempatan yang terbatas sehingga berakhir dengan selesainya sebab dan hal-hal yang terkait dengannya.

• Dukungan iman:

Maksudnya adalah berdoa kepada Allah, menggunakan waktu-waktu mustajab untuk mendukung dan membela Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina.. Allah berfirman:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنْ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“ (ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. (Al-Anfal:9) maka Allah menurunkan kepada mereka pertolongan dengan diturunkannya malaikat.

Ketujuh:

Ketahuilah bahwa kemenangan Allah sudah dekat

Karena syam adalah bumi yang satu hingga hari kiamat, selalu bersatu secara terus menerus, seperti yang diriwayatkan dari Mu’adz berkata: Rasulullah saw bersabda:

يا معاذ إنَّ الله عزَّ وجل سيفتح عليكم الشام من بعدي من العريش إلى الفرات، رجالهم ونساؤهم وإماؤهم مرابطون إلى يوم القيامة، فمن اختار منكم ساحلاً من سواحل الشام أو بيت المقدس فهو في جهاد إلى يوم القيامة

Wahai Mu’adz sesungguhnya Allah akan membukakan kepada kalian bumi Syam setelah saya dari Arisy hingga sungai Eufrat, kalangan lelaki, wanita dan budak-budak mereka akan senantiasa bersatu hingga hari kiamat, karena itu barangsiapa yang terpilih diantara kalian berada di salah satu pantai dari pantai Syam atau baitul maqdis maka ia berada dalam jihad hingga hari kiamat”.

Dan Allah telah memberi tahukan kepada nabi Muhammad saw bahwa bumi yang disucikan ini akan dijajah oleh musuh, atau mengancamnya dengan perang dan invasi, karena itulah beliau selalu memotivasinya dengan bersatu, berjihad untuk mempertahankannya sehingga tidak jatuh ke tangan musuh, dan untuk memerdekakannya jika telah jatuh ke tangan musuh, seperti yang disampaikan oleh nabi tentang perang yang terjadi antara umat Islam dengan Yahudi, dan bahwasanya kemenangan milik umat Islam, dan segalanya akan berada pada barisan umat Islam hingga batu dan pohon sekalipun, dan keduanya akan berbicara memberitahukan tempat musuh mereka, baik berbicara langsung atau tidak langsung.. diriwayatkan oleh imam muslim dalam shahihnya dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ، حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai terjadi perang besar antara umat Islam dengan Yahudi, sehingga umat Islam mampu membunuh mereka, dan Yahudi akan berusaha bersembunyi di batu dan pohon-pohon, maka pada saat itu batu dan pohon akan berbicara: wahai muslim, wahai hamba Allah ini seorang yahudi ada dibelakangku, maka kemarilah dan bunuhlah dia, kecuali pohon al-ghorqod, maka ia merupakan salah satu pohon yahudi”.

Dan diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam sanadnya dari Abu Umamah berkata: berkata Rasulullah saw:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ، لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلاَّ مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: “بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِس

“Salah satu kelompok dari umatku akan tetap dalam kebenaran dan memenangkannya, terhadap musuh mereka akan tegas, tidak pernah merasa gentar terhadap orang yang memusuhinya kecuali jika menimpa mereka dari laawa, sampai datang azab Allah sementara kondisi mereka seperti itu. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, dimanakah mereka? Beliau menjawab: di baitul maqdis, dan punggung baitul maqdis”.

Karena itu, kita dituntut untuk mengerahkan berbagai tenaga dan fikiran guna membela Al-Aqsha dan baitul maqdis serta Palestina, dan hendaknya kita yakin secara penuh bahwa janji Allah pasti datang, dan kemenangan Allah sudah dekat. Allah berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”. (Al-Baqarah:214)


sumber: http://www.al-ikhwan.net/khutbah-munasharah-al-aqsha-3174/

08 Oktober 2009

Berita Tentang Padang Mahsyar

Setelah manusia dibangkitkan dari alam kubur oleh Allah SWT, maka manusia akan digiring secara bekelompok-kelompok dengan bertelanjang kaki, tidak berpakaian menuju tempat yang disebut Padang Mahsyar yaitu tanah berpasir putih dan sangat datar dimana tidak terlihat lengkungan maupun tonjolan.

Di Padang Mahsyar tersebut berkumpullah semua mahluk Allah SWT yang berada di tujuh lapis langit dan bumi termasuk malaikat, jin, manusia, qorun, binatang melata, binatang buas dan burung-burung, dimana mereka berkumpul berdesak-desakan.

Matahari dan bulan padam sehingga bumi dalam kegelapan dan tatkala mereka dalam keadaan demikian, langit diatas mereka berputar-putar dan meledak pecah berkeping-keping selama 500 tahun sehingga langit terbelah dengan segala kekuatannya kemudian meleleh dan mengalir bagaikan perak yang dipanaskan hingga berwarna merah dan manusia bercampur baur seperti serangga yang bertebaran dalam keadaan telanjang kaki, tidak berpakaian dan berjalan kaki.

Seperti dalam sabda Rasulullah Saw; Pada hari kebangkitan tsb manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok: Kelompok yg berkendaraan, kelompok yg berjalan kaki dan kelompok yg berjalan dengan wajahnya. Seorang sahabat bertanya bagaimana mungkin mereka bisa berjalan dengan wajah mereka ya Rosulullah? Beliau menjawab, “Allah SWT yg menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka berjalan dengan wajah”. Subhanallah!

Kemudian matahari diterbitkan oleh Allah SWT tepat diatas kepala mereka dengan jarak hanya 2 busur sehingga manusia terpanggang oleh teriknya matahari yang intensitas panasnya telah dinaikkan dan keringatpun mengalir deras hingga menggenangi padang kiamat seiring dengan rasa takut yang luar biasa karena mereka akan dihadirkan dihadapan Allah SWT.

Keringat tersebut naik ke badan mereka masing-masing sesuai dengan tingkatan mereka dihadapan Allah SWT. Bagi sebahagian orang keringat akan menggenang mencapai lutut, bagi sebagian lain mencapai pinggang dan bagi sebagian lainnya mencapai lubang hidung bahkan ada sebagian manusia nyaris tenggelam didalamnya.

Kita tidak tahu setinggi apakah keringat kita nanti; karena keringat yang belum kita cucurkan untuk berjuang dijalan Allah SWT -seperti melaksanakan ibadah haji, jihad, puasa, sholat dimalam hari, memenuhi kebutuhan seorang muslim dan menanggung akibat dari menegakkan amar makruf nahi mungkar- akan dialirkan keluar oleh rasa takut dan malu dipadang kiamat nanti.

Oleh karena itu marilah kita renungkan, bahwa pada saat kita dipadang mahsyar nanti, derita yang akan kita rasakan sangat berat padahal semua ini terjadi sebelum kita menjalani pemeriksaan ataupun hukuman yang akan kita terima dari Allah SWT atas dosa kita.

Mudah-mudahan kita digolongkan pada golongan yang sangat sedikit berkeringat dipadang mahsyar nanti dan mudah-mudahan gambaran ini akan menambah rasa taqwa kita kepada Allah SWT.

Amien.